Senin, 18 Mei 2015

PERANANAN SOFT SKILLS BAGI MAHASISWA YANG AKAN BEKERJA MAUPUN MEMBUAT LAPANGAN PEKERJAAN

PERANANAN SOFT SKILLS BAGI MAHASISWA YANG AKAN BEKERJA MAUPUN MEMBUAT LAPANGAN PEKERJAAN

Oleh : Lukman Rismansyah
Mahasiswa D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung

Abstrak
          Kesuksesan seseorang di dalam dunia kerja, bukan karena faktor kemampuan akademisnya. Bukan karena kemampuan teknikal/ hard skills seseorang. Banyak penelitian menunjukkan bahwa, kesuksesan seseorang di dalam dunia kerja itu bukan didasarkan karena kemampuan teknikal. Kemampuan teknikal hanya menyumbang sebesar sepeluh persen untuk kesuksesannya, dan sisanya 80 persen disumbang oleh kemampuan non akademis atau biasa disebut soft skills. Soft skills saat ini adalah penunjang bagi seseorang yang akan bekerja maupun membuat lapangan pekerjaan. hal ini ditunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan lebih memilih calon tenaga kerja yang memiliki kemampuan soft skills yang sangat baik tetapi hard skillnya kurang. Dibandingkan memilih calon tenaga kerja yang memiliki kemampuan hard skill mumpuni tetapi kemampuan soft skills nya kurang. Mereka beranggapan bahwa memberikan keterampilan teknikal lebih mudah dibandingkan memberikan keterampilan soft skills. Karena soft skills itu tumbuh dari masing-masing orang yang tumbuh karena kebiasaan. Tak hanya bagi tenaga kerja, bagi seseorang yang akan membuat lapangan kerja pun, harus mempunyai kemampuan soft skills. Berinteraksi dengan orang lain adalah hal yang sangat lumrah dilakukan oleh seorang wirausahawan. Masih ada banyak lagi soft skills yang harus diperlukan oleh seorang wirausahawan. Bagi kita seorang mahasiswa yang akan meneruskan karir setelah lulus dari perkuliahan, haruslah memiliki beberapa soft skills yang mutlak dan perlu di kembangkan di dalam dunia pendidikan tinggi dan kehidupan sehari-sehari. Hal itu dimaksudkan untuk membuat kesuksesan akan jauh lebih mudah dicapai dan karir yang sedang dibangun akan terus merangkak naik sesuai dengan apa yang di impikan
Kata kunci : Mahasiswa, Soft Skills, Tenaga Kerja, Wirausaha
PENDAHULUAN

Saat ini, mahasiswa begitu sangat menginginkan pencapaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang sangat tinggi. Mereka beranggapan bahwa, jika mempunyai Indeks Prestasi Kumulatif yang sangat tinggi, akan mempermudah jalan mereka diterima bekerja di Perusahaan yang mereka idamkan. Hal itu tidaklah salah dan juga tidak terlalu tepat untuk beranggapan demikian. Nyatanya saat ini, Perusahaan tidak selalu melihat mahasiswa dengan predikat IPK tinggi, tetapi perusahaan juga melihat dari indeks yang lain. Indeks yang lain itu ialah bagaimana mahasiswa mempunyai kemampuan soft skills yang baik. Dalam (Ahmed, Piers, Beg, & Capretz, 2011), Bolton (1986) menemukan hasil penelitiannya bahwa 80 persen individu, yang gagal dalam pekerjaannya, bukanlah dikarenakan keterbatasan akan kemampuan teknikalnya, justru lebih dikarenakan keterbatasannya menjalin hubungan baik dengan lingkungan dan individu-individu lain disekitarnya. Selain itu juga penelitian dari Harvard University, Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skills). Penelitian ini mengungkapkan kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% dengan hard skill dan sisanya 80% dengan soft skills.
Oleh karena itu, pada saat ini perusahaan-perusahaan sangat memperhatikan akan faktor soft skills bagi calon-calon tenaga kerja yang akan direkrutnya. Menurut  penelitian dari Aurino Rilman Adam Djamaris dalam Jurnal nya yang berjudul Analisis Faktor Kompetensi Soft skills Mahasiswa Yang Dibutuhkan Dunia Kerja Berdasarkan Persepsi Manajer Dan HRD Perusahaan, dikatakan bahwa ada enam belas faktor kompetensi soft skills mahasiswa yang dibutuhkan oleh dunia kerja berdasarkan persepsi manajer dan pihak HRD perusahaan, yaitu ; 1) keterampilan kepemimpinan yang berjiwa wirausaha, 2) keterampilan komunikasi secara oral, 3) kemampuan komunikasi ide efektif dalam tim, 4) kepemimpinan dalam penyelesaian masalah (problem solving), 5) keterampilan berpikir dan menyelesaikan masalah dan mengkomunikasikannya, 6) emphatic dan perilaku positif, 7) komitmen organisasional, 8) keterampilan kepemimpinan dalam tim, 9) keterampilan membuat proposal usaha, 10) keterampilan komunikasi non-verbal, 11) keterampilan memberikan pelatihan, coach,  encourage kepada tim, 12) berjiwa wirausaha dengan etika dan perilaku positif, 13) profesionalisme dalam bekerja, 14) keterampilan memberikan tanggapan dengan baik, 15) keterampilan berkomunikasi secara lisan, dan 16) keterampilan kerja dalam tim dan kemampuan pendelegasian.
Tenaga kerja yang memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quatient) sangat mendukung akan kebutuhan dalam persaingan di dalam dunia kerja di samping kecerdasan intelektual. Kemampuan soft skills, termasuk ke dalam kecerdasan emosional yang menurut definisi adalah Kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan orang lain, Kemampuan memotivasi diri, Kemampuan mengendalikan diri/ mengelola emosi pada diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain (Goleman, Boyatzis, & McKee, 2002). Keterampilan soft skills tenaga kerja, dalam perkembangannya banyak disumbang oleh karakter pribadi yang berasal dari didikan lingkungan keluarga (pola asuh), tradisi dan pengaruh lingkungan sosial. Dan jika kita menilik dalam konteks mahasiswa, pengembangan soft skills bisa dikembangakan di dunia kampus nya masing-masing tergantung bagaimana mahasiswa itu bisa memanfaatkannya. Karena banyak sekali faktor-faktor yang bisa mempengaruhi perkembangan soft skills di lingkungan kampus. Terlebih apabila mahasiswa mengikuti sebuah organisasi di kampusnya, maka mahasiswa tersebut melatih kemampuan soft skills mereka tanpa mereka sadari. Karena dalam hakikatnya organisasi di dalam kampus bisa menjadi gambaran kecil bagaimana nanti kita berada di dalam dunia kerja dalam suatu perusahaan. Di dalam perusahaan kita juga akan berorganisasi bahkan struktur organisasi di dalam perusahaan akan jauh lebih besar, bekerja sama secara tim, dan juga berkomunikasi kepada sesama rekan kerja, kepada bawahan sampai ke berkomunikasi kepada atasan.
Tak hanya bagi para pencari kerja, soft skills juga dibutuhkan bagi para mahasiswa ataupun seseorang yang akan membuka bisnis baru atau berwirausaha. Tak hanya menjadi tenaga kerja, bagi orang yang membuka lapangan pekerjaan, mereka juga dituntut mempunyai soft skills yang beberapa diantaranya sama dengan yang dibutuhkan bagi tenaga kerja. Tapi selain itu ada juga beberapa soft skills yang harus mutlak dimiliki oleh pencipta lapangan pekerjaan. Maka dari itu paper ini dibuat, karena untuk mengetahui betapa pentingnya kemampuan soft skills bagi mahasiswa di dalam mencari kerja maupun membuat lapangan kerja. Paper ini mengambil referensi dari tiga buah jurnal dan juga sumber-sumber lain yang berhubungan tentang soft skills dan kewirausahaan.


ISI

SOFT SKILLS?
Dalam dunia kerja yang dibutuhkan tidak hanya kepintaran teknikal/ akademik saja, namun juga kepintaran non akademik sangat di perhatikan. Dalam lembaga pendidikan formal, biasanya lebih ditekankan kepada kemampuan akademik. Sedangkan kemampuan non akademik tidak terlalu begitu di perhatikan. Pada kenyataanya dalam dunia kerja, selain kita harus menyelesaikan tugas sesuai job description nya masing-masing sesuai dengan kemampuan akademiknya, kita juga dituntut harus beradaptasi di dalam ruang lingkup dunia kerja kita. Hard Skill atau biasa disebut dengan kemampuan akademis, sedangkan kemampuan non akademis biasa disebut Soft skills. Hard skills meliputi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknikal yang berhubungan dengan disiplin ilmunya. Sedangkan soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) untuk kerja secara maksimal. Berthal mengemukakan (dalam Muqowim, 2012: 5), soft skills diartikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang mengembangkan dan memaksimalkan kinerja manusia. Sedangkan menurut Putra dan Pratiwi (2005: 5) soft skills adalah kemampuan-kemampuan tak terlihat yang diperlukan untuk sukses, misalnya kemampuan berkomunikasi, kejujuran/integritas dan lain-lain. 
Menurut Sailah (2007:11) soft skills didefinisikan sebagai “Personal and interpersonal behaviour that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, initiative, decision making, etc.). Soft skills does not include technical skill such as financial computing and assembly skills.” Definisi tersebut dapat dimaknai bahwa perilaku hubungan antar pribadi dan dengan pribadinya sendiri dikembangkan dan kinerja manusianya dioptimalkan (misalnya, forum pelatihan, bekerjasama dalam tim, inisiatif, pengambilan keputusan komunikasi, kemampuan beradaptasi, conflict solution, kepemimpinan, pemecahan masalah, dll.). Soft skills tidak meliputi keterampilan teknikal seperti keterampilan perhitungan finansial. Prastiwi memaparkan (2011: 3). Secara umum soft skills diartikan sebagai kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.
Jika kita melihat paparan definisi tentang soft skills menurut para ahli diatas, bisa kita maknai bahwa soft skills itu terbagi menjadi dua, yaitu Intrapersonal skill dan Interpersonal skill. Lalu apa yang dimaksud dengan Intrapersonal skill dan Interpersonal skill? Intrapersonal skill adalah keterampilan dimana kita mengatur diri sendiri. Ini adalah hal yang paling utama sebelum dimana seseorang akan menjalin hubungan dengan orang lain. Beberapa contoh Intrapersonal skill antara lain ; Transformasi karakter, manajemen waktu, percaya diri, dan proaktif. Sedangkan Interpersonal skill adalah keterampilan berhubungan atau berinteraksi dengan lingkungan kelompok masyarakat dan lingkungan kerja serta interaksi antar individu. Beberapa contoh Interpersonal skill antara lain; kemampuan berkomunikasi, keterampilan kepemimpinan, keterampilan negosiasi, keterampilan berbicara di depan umum, dan kerjasama tim.

MENGAPA BUTUH SOFT SKILLS ?
Jika kita mempunyai hard skill yang sangat bagus, tetapi kita mempunyai soft skills yang kurang baik, itu akan menjadi catatan negatif saat kita akan mencari pekerjaan ke perusahaan. Saat ini perusahaan cenderung mencari tenaga kerja yang memiliki kepribadian yang baik walaupun hard skill nya yang kurang. Memberikan keterampilan akademis akan jauh lebih mudah dibandingkan pembentukan karakter. Soft skills bersumber dari karakter pribadi yang berasal dari didikan lingkungan sekitarnya. Pembentukan karakter memang harus membutuhkan waktu yang lama, terlebih bagi orang-orang yang tidak mempunyai motivasi untuk merubahnya. Karakter itu muncul dari kebiasaan-kebiasaan. Jika seseorang sudah terbiasa dengan apa yang dilakukannya, maka itu akan menjadi sebuah karakter. Karena soft skills itu muncul dari karakter pribadi, maka kita harus merubah diri kita membiasakan diri untuk melatih soft skills kita. Dalam konteks kita sebagai mahasiswa, keterampilan soft skills kita bisa dilatih melalui pendidikan formal maupun di luar pendidikan non formal. Menurut Nasaruddin Salam, sejauh ini dalam upaya pengembangan soft skills, khususnya di dunia perguruan tinggi presentase dari soft skills hanya berkisar sepuluh persen. Sisanya adalah hard skill yakni ada 90 persen. Ini berdasarkan sistem pendidikan di Indonesia. Hal ini bertolak belakang dengan yang seharusnya terjadi bahwa seseorang harus lah lebih banyak memiliki soft skillss lebih besar ketimbang hard skill. Ini berarti kontribusi soft skills yang dibutuhkan pada dunia kerja cukup tinggi, sehingga dibutuhkan tenaga kerja yang memiliki soft skills baik.

Dalam pendidikan formal, salah satu contoh untuk pengembangan soft skills bisa di dapat dalam pendidikan pembentukan karakter (Characther Building). Di dalam Characther Building umumnya menekankan pada sisi intrapersonal skills masing-masing. Seperti contoh; Transforming Characther, Time Management, Berpikir Kreatif, dan Goal Setting. Beberapa contoh intrapersonal skills tadi seharusnya harus dimiliki oleh mahasiswa. Dan beberapa contoh sudah bisa menjadi karakter pribadi yang bisa menguntungkan mahasiswa. Terlebih bagi mahasiswa yang akan mencari pekerjaan ataupun membuat pekerjaan. Tak hanya intrapersonal skills saja yang di ajarkan dalam pendidikan pembentukan karakter, tapi juga di ajarkan tentang interpersonal skills. Seperti contoh; bekerja secara tim, kemampuan berkomunikasi, dan kepemimpinan. Hal itu sangat lah mutlak harus dimiliki oleh mahasiswa dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
            Dalam mengasah kemampuan soft skills di luar pendidikan formal, terlebih di dalam lingkungan kampus bagi mahasiswa, banyak sekali lingkungan yang dapat mendukung untuk melatih kemampuan soft skills. Kebalikan dari pendidikan formal, dalam melatih kemampuan soft skills dari lingkungan sekitar yang paling menonjol adalah dalam interpersonal skills nya. Banyak sekali lingkungan yang dapat melatih kemampuan soft skills kita. Menurut Suyanto (2005) untuk menguasai kemampuan soft skill yang berupa kecerdasan emosi dan spiritual kepada mahasiswa dapat dilakukan melalui bentuk kegiatan kemahasiswaan yang dapat memberikan pengalaman nyata yang akan membantunya ketika mereka terjun ke masyarakat (dunia kerja). Di mulai dari yang paling awal, organisasi di dalam kelas. Terlihat seperti sederhana , namun di dalam organisasi kelas kita sudah dapat melatih soft skills kita. Seperti, kemampuan berbicara di depan umum, leadership skills, menjalin hubungan dengan dosen, dan kemampuan berkomunikasi. Lalu jika berjalan keluar , kemampuan soft skills bisa di dapat melalui Himpunan Mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa, Badan Legislatif dan Yudikatif Mahasiswa, dan juga bisa di dapat dari organisasi luar kampus. Di sana kita akan dapat banyak melatih soft skills kita. Seperti, berbicara di depan publik, communication skills, kemampuan menjalin relasi, leadership skills, bekerja sama secara tim, dan masih banyak yang lainnya. Jika kita tidak mempunyai pengalaman dalam berorganisasi sebelumnya, mungkin akan sulit untuk mengikuti dalam melatih kemampuan soft skills. Tetapi itu bukan masalah. Karena segala sesuatu tidak ada yang instan, terlebih dalam melatih soft skills. Melatih soft skills adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu. Tetapi kita juga harus punya motivasi diri untuk melatih kemampuan tersebut. Tiga atau empat tahun di dunia kampus dirasa sangat cukup untuk mengembangkan kemampuan soft skills dan hard skills kita.
            Dalam melatih hard skills di dapat dalam pendidikan formal kampus. Sedangkan melatih soft skills di dapat di luar pendidikan formal kampus. Kita harus sangat bisa memanfaatkan waktu selama kita berada di kampus. Karena dua skills ini sangatlah penting, sebagai bekal kita untuk mengarungi kehidupan seusai lulus dari dunia kampus. Tetapi yang harus di perhatikan, komposisi seseorang harus lah memiliki kemampuan soft skills yang lebih banyak dibandingkan hard skills. Lalu, apakah perlu juga peranan soft skills di dalam membentuk lapangan kerja? Ya sangat lah perlu. Kita harus bisa menjalin relasi, harus mempunyai motivasi dalam membangun bisnis, kemampuan memecahkan masalah, dan masih banyak hal-hal lain yang harus di perhatikan dan harus dimiliki oleh seorang entepreneur. Soft skills dan hard skills merupakan paduan yang harus terintegrasi agar lulusan mahasiswa dapat mencari pekerjaan dengan mudah dan juga membuat usaha sendiri.

SOFT SKILLS BAGI TENAGA KERJA
            Bagi sebagian besar mahasiswa, ketika sudah lulus dari dunia perkuliahan mereka lebih memilih untuk bekerja di perusahaan-perusahaan apalagi bekerja di perusahaan multinasional karena upah yang diberikan cukup menggiurkan. Bagi mereka yang mempunyai kemampuan akademis yang sangat baik atau memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, mungkin mereka beranggapan akan sangat dengan mudah bekerja di perusahaan besar. Tetapi kenyataanya, dalam (Ahmed, Piers, Beg, & Capretz, 2011), Bolton (1986) menemukan hasil penelitiannya bahwa 80 persen individu, yang gagal dalam pekerjaannya, bukanlah dikarenakan keterbatasan akan kemampuan teknikalnya, justru lebih dikarenakan keterbatasannya menjalin hubungan baik dengan lingkungan dan individu-individu lain disekitarnya. Dari pernyataan diatas bisa di dapat bahwa, kesuksesan bukan hanya di dapat dari seberapa kuat atau besar kita dalam kemampuan teknikal/ akademis. Justru agar dapat sukses di dalam pekerjaan kita harus kuat atau besar dalam kemampuan non akademis atau dalam kata lain soft skills. Perlunya kemampuan soft skills juga di perkuat oleh hasil survei yang dilakukan National Association of Colleges and Employers (NACE) tahun 2002 di Amerika Serikat. Tapi soft skills yang bagaimana yang di perlukan oleh perusahaan? Soft skills itu bermacam-macam dan masih belum dapat teridentifikasikan dengan baik. Hal ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Ruben and De Angelis (1998). Hasil survei NACE USA (2002) dan Sharma (2009) membuktikan bahwa variasi soft skills masih sangat luas, sekitar enam puluhan variabel soft skills masih bisa di klasifikasikan lagi menjadi lebih tepat. Ada beberapa soft skills yang umum yang telah banyak di ketahui khalayak banyak tentang beberapa soft skills yang memang harus mutlak dimiliki oleh seorang pelamar kerja. Seperti, kemampuan berkomunikasi, berbicara di depan publik, dan bekerja sama dengan tim.
            Aurino Rilman Adam Djamaris pernah melalukan penelitian yang dituliskan dalam Jurnal yang berjudul berjudul “Analisis Faktor Kompetensi Soft skills Mahasiswa Yang Dibutuhkan Dunia Kerja Berdasarkan Persepsi Manajer Dan HRD Perusahaan” yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 1000 sampel. Responden penelitian tersebut adalah bagian/ departemen sumberdaya manusia atau manajer di perusahaan lokal skala menengah-besar dan perusahaan global di wilayah Jawa. Dan hasilnya di dapat enam belas faktor kompetensi soft skills yang dibutuhkan oleh dunia kerja berdasarkan persepsi manajer perusahaan yaitu ;
1)      Keterampilan kepemimpinan yang berjiwa wirausaha
2)      Kemampuan komunikasi secara oral
3)      Komunikasi ide efektif dalam tim
4)      Keterampilan kepemimpinan
5)      Keterampilan berpikir dan menyelesaikan masalah dan mengkomunikasikannya
6)      Perilaku positif - emphati
7)      Komitmen organisasional
8)      Keterampilan kepemimpinan tim
9)      Keterampilan proposal usaha
10)  Keterampilan komunikasi non-verbal
11)  Keterampilan melatih
12)  Berjiwa wirausaha dengan etika/perilaku positif
13)  Profesionalisme
14)  Keterampilan komunikasi – tanggapan dengan baik
15)  Keterampilan berkomunikasi secara tulisan
16)  Keterampilan kerja dalam tim – pendelegasian
Dari faktor-faktor di atas menunjukkan bahwa variasi soft skills sangat lah luas. Dan jika menilik dari faktor diatas bahwa faktor kompetensi yang sangat perlu sekali dibutuhkan dalam dunia kerja adalah faktor keterampilan komunikasi. Survei yang dilakukan oleh NACE  terhadap 450 pemimpin perusahaan di Amerika membuktikan bahwa terdapat dua puluh nilai yang harus dikuasai lulusan universitas dalam melamar pekerjaan, dengan urutan pertama didominasi oleh kemampuan berkomunikasi yang mencapai peringkat 4,89 dari skala 5, diikuti oleh integritas, dan bekerja dalam tim. Pada urutan ketujuh belas, terdapat standar indeks prestasi kumulatif (IPK) dan diikuti oleh kemampuan entrepreneurship pada urutan terakhir. Pada dasarnya, syarat utama pelamar pekerjaan yang dilihat adalah intelektual mereka yang digambarkan melalui IPK, namun syarat tersebut tentu harus didukung oleh kemampuan yang sangat mendominasi, utamanya adalah softskills. (http://www.itb.ac.id/news/4297.xhtml).
Bagaimana pun juga komunikasi adalah kunci dalam dunia kerja. Kemampuan berkomunikasi akan memudahkan kita dalam pekerjaan dimana tempat kita bekerja. Baik verbal maupun non-verbal, kemampuan berkomunikasi harus mutlak bagi yang akan atau sedang bekerja. Selain itu juga, mempunyai keterampilan komunikasi yang baik dapat bermanfaat bagi kita, seperti contohnya dalam meyelesaikan konflik, meningkatkan produktivitas, dan membuat rasa nyaman di dalam sebuah kelompok. Selain keterampilan komunikasi, hasil penelitian tersebut menyinggung betapa pentingnya juga tentang kepemimpinan. Kepemimpinan sangatlah dibutuhkan apalagi jika di dalam sebuah tim. Di dalam sebuah tim haruslah ada seorang leader  yang harus memimpin bagaimana jalan dari tim tersebut. Di dalam perusahaan pun sama, kepemimpinan adalah suatu fungsi yang membuat orang lain menyelesaikan pekerjaan dan memotivasi bawahannya. Kepemimpinannya juga sangat berpengaruh terhadap aktivitas sebuah organisasi. Seorang pemimpin akan menjadi panutan bagi para bawahannya. Apabila seorang pimpinan perusahaan mempunyai gaya kepemimpinan yang sangat baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan bawahannya, maka perusahaan tersebut akan sangat cepat dan juga memberikan dampak yang lebih baik terhadap kinerja karyawan . Dan sebaliknya, apabila perilaku kepemimpinan yang ditampilkan oleh pimpinan perusahaan tersebut kurang baik dan tidak sesuai dengan apa yang di harapkan bawahannya, maka akan berpengaruh terhadap perusahaan dan juga kinerja karyawannya.
Enam belas faktor di atas adalah faktor-faktor kompetensi yang harus dimiliki oleh calon tenaga kerja. Kita bisa meringkas nya lagi menjadi lebih sederhana untuk soft skills yang harus dimiliki oleh mahasiwa dan perlu di kembangkan lagi di dalam lingkungan pendidikan tinggi. Beberapa soft skills tersebut ialah, keterampilan berkomunikasi (communicative skill), keterampilan berpikir dan keterampilan menyelesaikan masalah (thinking skill and problem solving skill), belajar sepanjang hidup dan pengelolaan informasi (life-long learning and information management) keterampilan secara tim (team work skill), keterampilan wirausaha (entrepeneur skill), etika, moral dan profesionalisme (ethics, moral and profesionalism), dan keterampilan kepemimpinan (Leadership Skill). Communicative skill, telah disebutkan bahwa keterampilan ini adalah kunci di dunia kerja. Agar bisa lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan, lebih nyaman saat bekerja, dan berinteraksi dengan rekan kerja maupun atasan dan bawahan. Di dalam hidup ini pasti penuh dengan masalah. Setiap orang pasti mempunyai masalah, apalagi jika di dalam dunia kerja. Bukan hanya satu atau dua yang akan dihadapi, mungkin ada puluhan masalah yang harus kita hadapi. Disitulah peran dari thinking skill and problem solving skill untuk menghadapi semua masalah yang ada. Kita dituntut tenang, kreatif dalam menyelesaikan masalah agar bisa melanjutkan pekerjaan selanjutnya. Life-long learning adalah sebuah konsep dimana kita belajar secara berkesinambungan. Dimulai dari kanak-kanak sampai dewasa bahkan hingga tua nanti. Di dalam life-long learning terdapat proses penyimpanan informasi yang dimana dibutuhkan information management agar kita bisa mengatur dan mengolah semua informasi yang di dapat. Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan di lakukan seorang manusia, pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain. manusia selain disebut sebagai makhluk individu, manusia  juga disebut sebagai makhluk sosial. Manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Juga di dalam perusahaan ataupun di dalam lingkungan pendidikan, kita tidak dituntut untuk mengerjakan segala sesuatu oleh masing-masing. Tetapi juga bekerja secara tim, maka team work skill harus dimiliki. Tak harus bekerja di sebuah perusahaan, mahasiswa diharapkan bisa membuat lapangan pekerjaan dan disitulah betapa pentingnya mahasiswa mempunya entrepreneur skill untuk membuatnya. Ethic, moral and profesionalism sudah sepatutnya dimiliki oleh setiap manusia terlebih mahasiswa yang ingin terjun di dunia kerja. Dan terakhir leadership skill adalah salah satu yang bisa mempengaruhi sebuah perusahaan dan juga para karyawan perusahaan tersebut. Karena gaya kepemimpinan seorang pimpinan perusahaan lah yang akan menjadi panutan bagi para bawahannya yang nanti nya akan berdampak pada perusahaan itu sendiri.

SOFT SKILLS DALAM KEWIRAUSAHAAN
            Bagi mahasiswa setelah lulus dari dunia perkuliahan, umumnya mereka ingin melanjutkan untuk kerja di perusahaan. Apalagi di perusahaan ternama di perusahaan multinasional. Tetapi tak segelintir mahasiswa, yang ingin membuat lapangan pekerjaan. Beberapa mahasiswa ada yang membuat lapangan pekerjaan sesuai dengan disiplin ilmunya di pendidikan tinggi. Tapi tak jarang juga ada mahasiswa yang membuat lapangan pekerjaan diluar dari disiplin ilmunya. Ada banyak definisi tentang kewirausahaan. Wirausaha dari segi etimologi berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, berbuat sesuatu. Sedangkan Wirausahawan menurut Joseph Schumpeter (1934) adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses dan hasil bisnis (Achmad Sanusi, 1994). Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. (Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995). Sedangkan menurut Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5) adalah: “An entrepreneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the purpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and assembling the necessary resources to capitalize on those opportunities”. Dari pengertian-pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa, kewirausahaan adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh seseorang, melakukan bisnis baru, dengan menggunakan ide kreatif, memanfaatkan peluang, dan berkutat dengan resiko.
            Komponen soft skills yang dibutuhkan bagi seseorang yang akan membuat lapangan pekerjaan, umumnya hampir sama dengan apa yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan bekerja. Tetapi memang ada beberapa komponen lagi yang memang harus mutlak dimiliki oleh seorang wirausahawan. Setelah di jelaskan di awal, bahwa kesuksesan seseorang adalah dari kemampuan soft skills yang dimiliki seseorang tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada, ada 23 komponen soft skills yang harus dimiliki oleh tenaga kerja maupun wirausahawan. Ke 23 komponen tersebut ialah; 1) Inisiati, 2) Etika/Integritas, 3) Berpikir Kritis, 4) Kemauan Belajar, 5) Komitmen, 6) Motivasi, 7) Bersemangat, 8) Dapat diandalkan, 9) Komunikasi lisan, 10) Kreatif, 11) Kemampuan analitis, 12) Dapat mengatasi stress, 13) Manajemen diri, 14) Menyelesaikan persoalan, 15) Dapat meringkas, 16) Kooperatif, 17) Fleksibel, 18) Kerja dalam tim, 19) Mandiri, 20) Mendengarkan, 21) Tangguh, 22) Beragumentasi logis, 23) Manajemen waktu (Sailah, 2007:11). Selain dari 23 komponen soft skills diatas, bagi seorang wirausaha harulah memiliki soft skills yang memang sangat dibutuhkan. Kemampuan soft skills ini sangatlah penting bagi kesuksesan seorang wirausaha dalam membangun bisnisnya. Kemampuan soft skills tersebut ialah, communication skills, marketing skills, negotiation skills, creative, relation building dan public speaking skills. Communication skills memang adalah kunci bagi seseorang di dunia kerja. Kemampuan ini adalah kunci dari semuanya. Jika kita bisa berkomunikasi dengan baik, kita akan mampu beradaptasi dengan situasi apapun yang terjadi di perusahaan ataupun sebuah bisnis baru. Marketing skills dibutuhkan karena di dalam membuat usaha, kita haruslah perlu dalam menjajakan sebuah produk yang kita tawarkan. Kemampuan marketing skills ini memanglah sulit, karena dalam kemampuan ini kemampuan dalam mengajak dan mempengaruhi seseorang agar mengalihkan perhatiannya kepada kita itu memerlukan keahlian khusus. Maka dari itu kemampuan itu harus di asah dan dikembangkan sebelum kita membuat usaha. Berpikir kreatif juga sangat perlu di dalam dunia usaha. Karena kita tidak akan selalu menawarkan satu produk. Keragaman dari produk terbukti bisa menaikan kesuksesan di dalam usaha. Selain itu, berpikiri kreatif juga diperlukan dalam menyelesaikan sebuah masalah dengan cepat dan tepat. Membangun sebuah relasi juga bukan perkara yang mudah sebenarnya. Tapi jika kita sudah menguasi keterampilan berkomunikasi makan akan mudah dalam membangun relasi. Semakin banyak relasi, makan semakin besar peluang kesuksesan kita dalam berwirausaha. Negotiation skills, kemampuan ini sangat berhubungan dengan kemitraan atau networking. Kemampuan ini sangat menentukan keberhasilan dari sebuah proyek. Dalam negosiasi perlu ketegasan, kegigihan, dan kejelasan dari proyek yang kita tawarkan. Keterampilan berbicara di depan umumnya adalah salah satu faktor yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Dalam menawarkan produk, kita tidak akan hanya menawarkan kepada satu orang saja, melainkan kepada banyak orang. Dalam keterampilan berbicara di depan publik haruslah mempunyai persiapan yang matang, agar dalam berbicara di depan publik berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Dalam kemampuan ini persiapan mental juga salah satu yang harus diperhatikan, karena mental memegang perananan penting dalam berbicara di depan publik.






KESIMPULAN

            Pada umumnya, mahasiswa yang telah lulus dari dunia pendidikan tinggi lebih banyak memilih untuk bekerja di perusahaan. Tetapi tak segilintir mahaiswa, yang memilih untuk membuat lapangan pekerjaan. Sebuah kesuksesan memang tidak akan didapat secara mudah. Di dalam proses mencapai kesuksesan apalagi sukses di dunia kerja itu membutuhkan beberapa faktor. Kemampuan teknikal/ akademis saja tidak cukup untuk menunjukkan kesuksesan di dunia kerja. Kemampuan non akademis adalah satu faktor fundamental di dalam kesuksesan di dunia kerja. Kemampuan non akademis itu biasa disebut soft skills dan kemampuan teknikal/ akademis biasa disebut hard skills. Hard skills dan soft skills merupakan paduan yang harus terintegrasi dengan baik. Hard skills bisa di dapat di dunia pendidikan formal. Sedangkan soft skills di dapat bisa melalui pendidikan formal dan di luar pendidikan formal. Kemampuan soft skills memang sangatlah banyak. Variabel-variabel nya masih belum bisa teridentifikasikan dengan baik. Tapi bagi kita seorang mahasiswa yang akan bekerja maupun membuat lapangan pekerjaan harus memiliki dan perlu mengembangkan kemampuan soft skills baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan sehari-hari. Bagi para calon tenaga kerja, ada beberapa soft skills yang harus diperhatikan. Kemampuan tersebut antara lain ; keterampilan berkomunikasi (communicative skill), keterampilan berpikir dan keterampilan menyelesaikan masalah (thinking skill and problem solving skill), belajar sepanjang hidup dan pengelolaan informasi (life-long learning and information management) keterampilan secara tim (team work skill), keterampilan wirausaha (entrepeneur skill), etika, moral dan profesionalisme (ethics, moral and profesionalism), dan keterampilan kepemimpinan (leadership skill). Selain itu bagi para calon wirausahawan harus mempunyai beberapa soft skills. Beberapa soft skills tersebut ialah; communication skills (kemampuan berkomunikasi), marketing skills (kemampuan pemasaran) , negotiation skills (kemampuan bernegosiasi), creative (kreatif), relation building (membangun relasi) dan public speaking skills (kemampuan berbicara di depan publik. Kemampuan soft skills di atas harus lah dimiliki bagi mahasiswa yang akan bekerja ataupun berwirausaha. Hal itu dimaksudkan untuk mencapai kuseksesan di masing bidang-bidang yang digeluti mahasiswa tersebut entah menjadi tenaga kerja maupun sebagai wirausahawan.


DAFTAR  PUSTAKA

Aurino Rilman Adam Djamaris, Analisis Faktor Kompetensi Soft skills Mahasiswa Yang Dibutuhkan Dunia Kerja Berdasarkan Persepsi Manajer Dan HRD Perusahaan, Jurnal Manajemen Volume XVII/02/Juni/2013
Setya Widyawati, Pengembangan Soft Skills Dalam Pendidikan Sebagai Bekal Kewirausahaan, Jurnal Seni Budaya,Volume 9 No.1 2011
Hardi Utomo, Kontribusi Soft Skills Dalam Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan, Vol. 3 No. 5 2010















7 Habbits of Highly Effective Teens


Halo sobat blogger. Sesuai janji saya, kali ini saya bakalan membahas dan mengupas tentang buku yang sangat bagus dan terlaris karya Sean Covey yaitu buku 7 Habbits of Highly Effective Teens. Sesuai dengan judulnya, di dalam buku terdapat tujuh kebiasaan yang harus dimiliki oleh remaja agar menjadi manusia yang efektif. Apa saja sih tujuh kebiasaan itu?  Berikut tujuh kebiasaan tersebut dan sedikit penjelasan singkat:

Kebiasaan 1     : Jadilah Proaktif
                          Bertanggung jawablah atas hidupmu sendiri
Kebiasaan 2     : Merujuk Pada Tujuan Akhir
                          Definisikanlah misi dan sasaran hidupmu
Kebiasaan 3     : Dahulukan yang Utama
                          Susunlah prioritas, dan dahulukanlah hal-hal yang penting
Kebiasaan 4     : Berpikir Menang/Menang
                          Bersikaplah agar semua orang bisa menang
Kebiasaan 5     : Berusahalah untuk Memahami Terlebih Dahulu Baru Dipahami
                          Jadilah pendengar yang baik, yang tulus
Kebiasaan 6     : Wujudkan Sinergi
                          Bekerjasamalah agar mencapai hasil lebih baik
Kebiasaan 7     : Asahlah Gergajimu
                          Perbaharuilah dirimu secara berkala

Kebiasaan 1, 2, 3 menyangkut penguasaan diri. Di dalam buku ini menyebutnya “kemenangan pribadi”. Sedangkan kebiasaan 4, 5, dan 6 menyangkut hubungan-hubungan serta kerja sama. Buku ini menyebutnya “kemenangan publik”. Sebelum kita menguasai kebiasaan 4, 5 dan 6 atau kebiasaan yang berhubungan dengan kerja sama dengan orang lain, kita harus terlebih dahulu menguasai kebiasaan mengenani diri sendiri atau pribadi atau dengan kata lain kebiasaan 1,2 dan 3. Karena jika kita ingin menjadi pemain tim yang baik kita harus terlebih dahulu menguasai diri sendiri. Lalu kebiasaan yang ketujuh mengenai apa dong? Kebiasaan terakhir tersebuh adalah kebiasaan pembaharuan. Kebiasaan inilah yang menguatkan enam kebiasaan lainnya.
Berbicara mengenai kebiasaan, kebiasaan adalah hal-hal yang kita lakukan berulang-ulang. Tetapi kebanyakan kita tidak sadar akan kebiasaan kita. Jika kita mempunyai kebiasaan baik, tentulah akan berdampak kepada karakter yang baik pula. Jadi semua tergantung kepada diri kita sendiri. Jika kita mempunyai kebiasaan yang baik, maka kita akan mempunyai karakter yang baik dan akan membuat kita bisa sukses. Dan sebaliknya, jika kita mempunyai kebiasaan yang buruk, maka kita akan mempunyai karakter yang jelek. Seperti apa yang dikatakan oleh Samuel Smiles:

Taburkanlah suatu pikiran, maka kamu akan menuai perbuatan;
Taburkanlah suatu perbuatan, maka kamu akan menuai kebiasaan;
Taburkanlah suatu kebiasaan, maka kamu akan menuai karakter;
Taburkanlah suatu karakter, maka kamu akan menuai takdir.
Jadi mulai sekarang ini kita harus mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik ya sahabat blogger.

Kebiasaan 1 JADILAH PROAKTIF
Lawan kata dari kata proaktif adalah reaktif. Jika kita ingin membedakan mana yang bersikap proaktif dan mana yang bersikap reaktif, kita bisa menganalogikannya dengan sebuah air dan sebuah kaleng soda. Orang-orang proaktif membuat pilihan-pilihannya menurut nilai-nilai. Mereka berpikir sebelum bereaksi. Mereka sadar bahwa mereka tidak bisa mengendalikan segala yang terjadi kepada mereka, tetapi mereka bisa mengendalikan reaksi mereka. Tidak seperti orang reaktif. Orang-orang reaktif membuat pilihan-pilihannya menurut dorongan hati. Seperti analogi tadi bahwa mereka seperti sekaleng soda. Jika kehidupan mengocoknya sedikit saja, tekannya menumpuk dan tiba-tiba mereka meledak. Berbeda dengan orang-orang proaktif, mereka tenang seperti ait. Dikocok seperti apapun, takkan terjadi apa-apa. mereka tenang, dingin, dan terkendali. Bersikap proaktif ini adalah langkah pertama menuju tercapainya kemenangan pribadi.
Lalu kenapa kita harus bersikap proaktif ? bersikap proaktif ini ada manfaatnya lho guys. Diantaranya adalah; Tidak mudah tersinggung, bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya sendiri, berpikir sebelum bertindak, cepat pulih kalau terjadi sesuatu yang buruk, selalu mencari jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana, fokus pada hal-hal yang bisa mereka ubah, dan tidak menguatirkan hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Banyak kan manfaatnya menjadi orang yang bersikap proaktif? Lalu kenapa kita harus menghindari bersikap reaktif ? berikut dampak menjadi orang yang reaktif. Diantaranya adalah; mudah tersinggung, cenderung menyalahkan orang lain, cepat marah dan mengucapkan kata-kata yang belakangan mereka sesali, cenderung merengek dan mengeluh, menunggu segalanya terjadi kepada mereka, berubah hanya kalau perlu.

Kebiasaan 2 MERUJUK PADA TUJUAN AKHIR
Dalam kebiasaan ini mengatakan bahwa, kamu adalah pengemudinya, putuskanlah kami mau kemana dan buatlah peta untuk sampai ke sana. Lalu kenapa sih kita harus punya tujuan akhir? Di dalam buku ini dikatakan ada dua alasan kenapa kita harus mempunyai itu. Yang pertama adalah karena kita berada di persimpangan jalan dan jalan yang kita pilih sekarang akan mempengaruhi selamanya. Jadi intinya, kita ini hidup diantara beberapa pilihan. Dan pilihan yang nantinya kita ambil akan mempengaruhi jalan hidup kita. Bagaimana kita akan memlih pilihan-pilihan tersebut? tentunya kita harus mengingat tujuan akhir kita, agar pilihan kita sesuai dengan apa tujuan kita. Yang kedua adalah bahwa kalau kita tidak memutuskan masa depan kita sendiri, orang lainlah yang akan memutuskanya. Mau masa depan kita di tentukan orang lain?
Jadi kalau begitu penting untuk memiliki tujuan akhir, bagaimana caranya? Di dalam buku dikatakan cara yang terbaik adalah dengan menulis pernyataan misi pribadi. Pernyataan misi pribadi adalah seperti kepercayaan pribadi atau moto pribadi yang menyatakan seperti apa hidupmu. Ini adalah beberapa contoh penyataan misi pribadi :
-
-
Dalam membuat pernyataan misi pribadi tidak haruslah sama dengan milik orang lain. pernyataan misi pribadi itu banyak bentuknya. Bisa berupa sajak, nyanyian, kutipan, gambar, banyak kata, satu kata, dan lain-lain. Kita ini menuliskan untuk diri kita sendiri bukan untuk orang lain. Jadi biarkanlah pernyataan misi pribadi bermakna bagi diri kita sendiri. Lalu, bisa apa misi pribadi tersebut? salah satu manfaat dari pernyataan misi pribadi tersebut adalah dan yang paling penting, akan membantu kita dalam mengambil keputusan. Karena jika kita mempunyai dan mengingat tujuan akhir kita, kita tidak akan mengambil keputusan yang salah yang tidak sejalan dengan tujuan kita. Tentunya kita akan memilih keputusan yang bisa membawa kita kepada tujuan akhir kita.

Kebiasaan 3 DAHULUKAN YANG UTAMA
Dari bab kebiasaan ini kita diajarkan tentang kuadran waktu. Dari kuadran I sampai IV. Dari kuadran waktu tersebut terdiri dari dua unsur utama, yaitu “penting” dan “mendesak”. Penting adalah hal-hal yang paling penting, kegiatan utama, dan yang berkontribusi terhadap tercapainya misi serta sasaran-sasaran. Sedangkan mendesak adalah hal-hal yang mendesak, yang menuntut perhatian segera. Dari masing-masing kuadran, menggambarkan satu orang tertentu. Kuadran I menggambarkan tentang orang yang suka menunda-nunda. Kuadran III menggambarkan orang yang “yes man” atau orang yang selalu berkata iya. Kuadran IV menggambarkan orang-orang pemalas. Sedangkan kuadran II menggambarkan tentang orang-orang yang suka menentukan prioritas. Jadi kita harus berada pada kuadran II, agar menjadi orang-orang yang efektif. Selain itu juga ada beberapa akibat hidup di Kuadran II, yaitu; hidup akan terkendali, terjadinya keseimbangan, dan prestasi tinggi.

Senin, 11 Mei 2015

Mata Kuliah Character Building



Halo sobat blogger, kali ini saya mau cerita nih tentang salah satu mata kuliah saya di prodi D3 Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Bandung. Nama mata kuliahnya yaitu Character Building. Keren kan mata kuliahnya pembentukan karakter gitu hehe. Awal-awal pertemuan sih mata kuliah ini banyaknya ngobrol-ngobrol gitu, lama-lama kelamaan makin kesini-kesini banyak dikasih tugas :( lumayan sih melelahkan apalagi awal-awal banget yang memang belum terbiasa dengan tugas banyak. Ada beberapa macam tugas yang di kasih dalam mata kuliah ini, salah satunya yang paling menarik tuh ketika kita disuruh untuk menjadi volunteer di panti asuhan. Pengalaman pertama banget bisa bercengkrama dengan adik-adik di panti asuhan disana. Kebetulan saya dengan partner saya Imam Ardhi dan Desti Nuraemunah (temen sekelas juga) memilih panti asuhan Tunas Bangsa di daerah Lembang. Dan kebetulan juga anak-anak panti disana itu sebagian besar duduk di bangku SMP dan SMA. Dan ketika kami kesana banyak waktu kita habiskan dengan belajar bersama, berbagi kebahagiaan dengan menonton film bersama dan juga bermain games-games yang seru banget deh pokoknya. Dari proses menjadi volunteer di panti asuhan itu, saya mendapatkan banyak pelajaran. Salah satunya, kita bisa lebih peka dan peduli terhadap sesama apalagi terhadap yang membutuhkan. Karena diluar sana banyak sekali orang yang butuh bantuan kita. Banyak sekali orang yang kurang beruntung bahkan anak kecil pun yang mencari sesuap nasi untuk menyambung kehidupannya. Jadi kita harus lebih menghargai lagi apa yang telah kita dapatkan, karena belum tentu orang lain juga mendapatkan apa yang kita punya.

                                                      foto bersama anak-anak panti Tunas Bangsa
                                                               
                                              dengan salah satu anak panti namanya Edi Fadiansyah

Untuk pembelajaran di kelas sendiri, kita belajar dari beberapa buku yang menurut saya bagus sekali dan sangat menarik. Yang paling pertama adalah buku Quantum Learning karya Bobbi DePorter. Lalu ada buku 7 habbits karya Sean Covey. Selanjutnya ada Soft Skills karya Peggy Klaus. Dan yang baru-baru kali ini dan sedang dibahas adalah buku Berpikir Strategis karya S.P Reid. Dari keempat buku tersebut kita juga suka diberikan tugas. Yang paling pertama sekali adalah kita disuruh untuk membuat rangkuman mengenai buku Quantum Learning. Setelah itu kita disuruh untuk membuat catatan TS mengenai buku-buku tersebut. Dan terkadang kita diberikan tugas untuk mempresentasikan mengenai buku-buku tersebut. Memang kelihatannya sulit untuk dijalani. Tetapi dibalik itu semua, secara tidak langsung dosen melatih kita agar terbiasa dengan tugas yang menumpuk. Karena memang pada kenyataannya ketika di dunia kerja ,kita juga bakalan mendapatkan pekerjaan yang sangat banyak. Selain itu juga kita dituntut untuk bisa berbicara di depan umum. Karena kemampuan public speaking itu sangatlah penting, terlebih bagi mahasiswa Administrasi Bisnis. 


Balik lagi berbicara tentang buku-buku yang dibahasa dalam mata kuliah ini, pasti sobat blogger ada yang udah tau dan familiar sama buku di atas kan? Memang buku-buku tersebut merupakan buku yang sangat laris dan juga memang buku yang sangat berkualitas. Tapi menurut saya pribadi, diantara keempat buku tersebut yang paling menarik bahasannya adalah buku 7 Habbits. Karena kenapa, di dalam buku tersebut terdapat 7 kebiasaan yang memang harus dimiliki seorang remaja, untuk menjadi remaja berkulaitas. Selain itu juga, buku tersebut menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Sehingga kita dapat dengan mudah mencerna isi bacaan yang di dalam buku 7 Habbits. Pada lain kesempatan saya bakalan mengupas dan membahas mengenai  7 kebiasaan yang ada di dalam buku 7 Habbits karya Sean Covey tersebut. Sekian dulu postingan saya kali ini jangan bosen-bosen untuk ngecek dan mengunjungi blog saya terus ya :D Terima Kasih.